Top Ads



Denpasar (Tim Redaksi) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali menyebut mulai muncul sinyal kenaikan harga pangan sejumlah komoditas pokok di pasar tradisional akibat kelangkaan BBM.

“Memang sih lonjakan belum terasa, begitu juga bahan pokok penting yang lain, cuma bawang putih ini,” ucap Kepala Disperindag Bali I Gusti Ngurah Wiryanata dikonfirmasi di Denpasar, Kamis.

- Inline Ads -

Ia menyampaikan berdasarkan analisis dampak kelangkaan BBM yang dirilis portal SiGapura Bali periode 12 hingga 13 September, inflasi umum secara keseluruhan masih tercatat di bawah 0,1 persen.

Namun Disperindag Bali mendeteksi early warning atau sinyal peringatan dini berupa kenaikan harga pangan pada tujuh dari total 20 komoditas yang dipantau.

Komoditas tersebut didominasi produk hortikultura impor antar-pulau yang sangat bergantung pada biaya dan kelancaran ongkos angkut.

Kenaikan harga tertinggi tercatat pada komoditas bawang putih yang mengalami lonjakan dari Rp30.000 menjadi Rp30.429.

Komoditas lainnya yang ikut merangkak naik meliputi jeruk lokal sebesar 0,75 persen, cabai merah besar 0,63 persen, serta bawang merah 0,40 persen.

Selain itu, kenaikan tipis juga terjadi pada beras medium I sebesar 0,13 persen, cabai rawit 0,10 persen, dan beras premium sebesar 0,06 persen.

Di sisi lain, enam komoditas pokok tercatat mengalami penurunan harga maupun berada dalam posisi yang stabil.

Komoditas yang turun yaitu gula sebesar 1,69 persen, daging babi 1,42 persen, telur ayam ras 1,25 persen, dan minyak goreng sebesar 0,08 persen.

Wiryanata menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan di tingkat lokal masih mengalami surplus dan belum bergantung pada distribusi BBM jarak jauh.

Namun, neraca stok yang menipis menjadi titik rawan tersendiri apabila hambatan distribusi akibat antrean BBM terus berlanjut.

Stok komoditas seperti cabai merah besar kini tersisa 2 ton, cabai rawit 9 ton, bawang putih 12 ton, serta jeruk sebanyak 14 ton.

Jika pasokan mengalami hambatan selama tiga hingga lima hari ke depan, stok terbatas tersebut dipastikan habis dan memicu lonjakan harga hingga 20 persen.

“Rantai pasok dari Jawa dan lain sebagainya atau dari luar Bali aman, kata mereka, berarti transportasi di sana kan aman bisa ke Bali cuma kan dia disini baru merasakan stres ya karena disini habis bensinnya lalu kembalinya dia pusing juga,” ujar Wiryanata menjelaskan hasil konfirmasinya dengan para distributor besar.

Kendala utama yang dihadapi saat ini berada di sektor transportasi lokal akibat pengemudi truk logistik yang harus menghadapi stres dan kehabisan bahan bakar di Bali.

Kelangkaan pasokan energi tersebut membuat kendaraan operasional pengangkut dan kendaraan dinas mengalami kesulitan mobilitas di lapangan.

Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Disperindag Bali memetakan tiga fase potensi dampak lanjutan jika gangguan distribusi ini berlangsung lebih dari tujuh hari.

Fase kedua diprediksi akan memperluas kenaikan harga ke komoditas beras dan minyak goreng, disusul fase ketiga yang berdampak pada telur serta ayam.

Pihak Disperindag Bali kemudian mengeluarkan sejumlah rekomendasi strategis untuk meredam gejolak pasar yang lebih luas.

Rekomendasi tersebut mencakup prioritas pasokan BBM bagi truk logistik pangan, pelaksanaan operasi pasar untuk komoditas cabai dan bawang putih, serta monitoring harian neraca stok di bawah 20 ton.

Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026

- Bottom Ads -