Denpasar (Redaksi) – Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali menonjolkan desa wisata kepada wisatawan potensial untuk memperkuat diversifikasi produk pariwisata agar lebih berkualitas khususnya dari segi lama tinggal dan belanja wisatawan.
“Desa wisata kuat, ekonomi masyarakat juga kuat,” kata Ketua Asita Bali I Putu Winastra di sela diskusi soal pariwisata berkelanjutan yang diadakan Bank Indonesia Bali di Denpasar, Selasa.
Ia menjelaskan masing-masing desa wisata memiliki keunikan tersendiri sehingga memberikan nilai tambah dan pengalaman kepada wisatawan.
Menurut dia, fokus utama dalam strategi diversifikasi produk adalah optimalisasi belanja wisatawan dan tidak hanya sekedar berkunjung.
Beberapa fokus yang diterapkan karena menjadi tren dalam industri pariwisata yaitu kebugaran dan gastronomi atau wisata kuliner yang menghadirkan pengalaman kepada wisatawan.
Kemudian wisata regeneratif atau pariwisata yang ikut berkontribusi dan memberi dampak positif terhadap lingkungan dan pariwisata ramah lingkungan, berbasis komunitas hingga wisata pengalaman mewah.
“Kami masukkan desa wisata ke rantai pasok global,” ucapnya.
Meski begitu, ia mengakui menghadirkan pariwisata berkualitas di Bali agar lebih merata di wilayah utara, barat dan timur masih menemui sejumlah tantangan.
Tantangan tersebut di antaranya aksesibilitas infrastruktur konektivitas dan transportasi publik serta promosi yang masih terkonsentrasi di Bali Selatan karena infrastruktur yang lebih memadai di kawasan itu.
“Semoga ada transportasi publik lain seperti kereta dan tol yang menghubungkan Bali selatan dan utara,” imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali jumlah desa wisata di Bali mencapai 238 desa wisata.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat hingga 2025 jumlah pondok wisata atau homestay di Bali mencapai 5.594 unit.
Di sisi lain dalam kesempatan berbeda, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat belanja atau pengeluaran wisatawan asing di Bali pada 2025 diperkirakan sebesar Rp2,11 juta per malam atau meningkat Rp60 ribu dibandingkan 2024 yang mencapai Rp2,05 juta.
Meski ada peningkatan, namun hal itu lebih banyak dipengaruhi karena menguatnya kurs dolar AS.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Redaksi.
















