Jakarta (Tim Redaksi) – Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh solid di kisaran 5 persen pada paruh kedua 2026, meski menghadapi sejumlah tekanan dari kondisi global maupun domestik.
Josua mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup baik di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun, sejumlah risiko perlu diantisipasi agar momentum pertumbuhan tetap terjaga.
“Pertumbuhan ekonomi kami masih melihatnya cukup objektif dan konservatif. Artinya, di kuartal III dan kuartal IV akan melandai sehingga full year-nya di 5,26 persen,” kata Josua dalam Permata Institute for Economic Research (PIER) economic review kuartal II 2026 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Menurut dia, terdapat empat risiko global yang berpotensi memengaruhi prospek ekonomi Indonesia pada semester II 2026. Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, yang dapat mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi.
Kedua, ketidakpastian perang dagang yang berpotensi menekan ekspor Indonesia sekaligus meningkatkan impor. Kondisi tersebut dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan tekanan terhadap neraca pembayaran.
Josua juga menilai perbedaan arah kebijakan bank sentral global menjadi risiko yang tak terhindarkan. Perbedaan respons terhadap perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan serta volatilitas nilai tukar dan pasar obligasi.
Pewarta: Fitra AshariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















