TABANAN — Dari sebuah upaya menghidupkan kembali kesenian yang sempat terdiam selama puluhan tahun, lahir sebuah warna baru dalam musik tradisional Bali. Neo Nolin, kelompok musik asal Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, berhasil mencatatkan langkah penting dengan masuk sebagai nominator kategori Karya Produksi Musik Etno Terbaik dalam ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2026 melalui karya berjudul “Bali”.
Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Neo Nolin dalam merawat, mengembangkan, sekaligus memperkenalkan kembali musik tradisional Bali melalui pendekatan yang tetap berakar pada tradisi namun terbuka terhadap perkembangan zaman.
Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards merupakan ajang penghargaan yang memberikan apresiasi terhadap karya dan kreativitas insan musik Indonesia. Memasuki perjalanan 28 tahun, AMI Awards terus menjadi ruang apresiasi bagi berbagai karya yang mewarnai perjalanan musik Indonesia.
Tahun 2026, AMI Awards menghadirkan 67 kategori yang mewadahi beragam karya, genre dan warna musik Indonesia. Tahun ini juga terdapat empat kategori baru, yakni Album Rap/Hiphop Terbaik, Karya Produksi Etno Terbaik, Karya Produksi Pesta Timur Terbaik, dan Karya Produksi Hipdut Terbaik.
Hadirnya kategori Karya Produksi Etno Terbaik menjadi ruang baru bagi karya-karya musik etno yang tumbuh dengan karakter, cerita dan kekayaan budaya masing-masing daerah.
Bagi Neo Nolin, momentum tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan musik tradisi untuk mendapatkan ruang apresiasi yang lebih luas di tengah perkembangan musik Indonesia.
Berawal dari Menghidupkan Kembali Mandolin Bali
Perjalanan Neo Nolin tidak lahir secara tiba-tiba. Kelompok musik ini berawal dari upaya merekonstruksi kesenian Mandolin Bali atau Nolin di Pujungan pada 2018.
Kesenian tersebut sebelumnya telah mengalami kevakuman selama puluhan tahun. Upaya rekonstruksi dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk menggali kembali jejak musikal yang pernah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Pujungan.
Dari proses tersebut kemudian lahir instrumen Neo Nolin, yang merupakan hasil pengembangan dari instrumen Mandolin Bali terdahulu.
Kehadiran instrumen tersebut menjadi titik awal bagi Neo Nolin untuk tidak hanya memainkan kembali repertoar-repertoar klasik yang ada di Pujungan, tetapi juga menciptakan komposisi-komposisi baru untuk Mandolin Bali.
Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi proses kreatif yang mempertemukan warisan musik tradisional dengan eksplorasi musikal generasi saat ini.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bentuk revitalisasi kesenian lokal. Musik tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus diberi ruang untuk tumbuh dan menemukan relevansinya dengan kehidupan masa kini.
Karya “Bali” Membawa Cerita Pujungan ke AMI Awards
Dari proses berkarya tersebut, Neo Nolin kemudian melahirkan berbagai karya musik. Salah satunya adalah karya berjudul “Bali”, yang pada AMI Awards 2026 berhasil masuk nominasi kategori Karya Produksi Musik Etno Terbaik.
Pencapaian tersebut menjadi catatan tersendiri bagi kelompok musik yang tumbuh dari Desa Pujungan. Karya yang berangkat dari proses penggalian dan pengembangan musik tradisional kini memperoleh ruang apresiasi dalam salah satu ajang penghargaan musik nasional.
Bagi Neo Nolin, nominasi tersebut bukan semata tentang penghargaan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memastikan musik tradisional tetap memiliki ruang di tengah perubahan selera dan perkembangan industri musik.
Dihubungi pada Jumat (25/9), salah satu personel Neo Nolin, I Putu Yoga Nandana, menyampaikan harapannya agar momentum tersebut dapat semakin membuka ruang bagi musik tradisi.
“Melalui nominasi ini, kami berharap keberadaan musik tradisi mampu berdiri sejajar dengan musik lainnya di dunia, serta memantik kami untuk terus berkarya demi menjaga keberlanjutan dan relevansi musik tradisional di tengah perkembangan zaman,” ujar I Putu Yoga Nandana.
Menunggu Pengumuman Penerima Penghargaan
Saat ini, Neo Nolin masih menunggu pengumuman hasil AMI Awards 2026 untuk kategori Karya Produksi Musik Etno Terbaik.
Karya “Bali” menjadi salah satu dari lima karya/grup yang masuk dalam nominasi kategori tersebut. Selanjutnya, pengumuman AMI Awards akan menentukan karya yang memperoleh penghargaan terbaik pada kategori Karya Produksi Musik Etno Terbaik.
Bagi Neo Nolin, berada dalam jajaran lima nominator saja sudah menjadi bagian penting dari perjalanan mereka dalam memperkenalkan musik tradisional Bali ke ruang apresiasi yang lebih luas.
Menunggu hasil pengumuman, para personel Neo Nolin tetap membawa semangat yang sama seperti ketika proses rekonstruksi Mandolin Bali dimulai pada 2018, yakni menjaga keberlanjutan musik tradisional sekaligus memberikan ruang bagi kreativitas untuk terus tumbuh.
Menjaga Tradisi, Membuka Ruang Kreativitas
Neo Nolin beranggotakan I Nyoman Resa Angga Nurbawa, I Putu Yoga Nandana, I Kadek Werdi Saputra, I Gede Pirayana, I Wayan Darmika, I Komang Krisna Wijaya, I Made Aditya Mahesa Putra, dan I Putu Yesa Mahardika.
Dari Desa Pujungan, kelompok ini membawa pesan bahwa kesenian tradisional dapat terus berkembang ketika diberikan ruang untuk bereksplorasi.
Rekonstruksi Mandolin Bali yang dimulai pada 2018 tidak berhenti pada upaya mengembalikan kesenian yang pernah vakum. Proses tersebut berkembang menjadi penciptaan instrumen, revitalisasi repertoar klasik hingga produksi karya-karya baru.
Kini, karya “Bali” membawa perjalanan tersebut ke panggung Anugerah Musik Indonesia 2026.
Bagi masyarakat Tabanan, perjalanan Neo Nolin juga menjadi gambaran bagaimana kekayaan seni dan budaya yang tumbuh di desa dapat menemukan ruang apresiasi yang lebih luas. Tradisi yang dirawat, dikembangkan dan dihidupkan melalui kreativitas generasi muda dapat menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia.
Dari Pujungan, suara Nolin kembali bergaung. Bukan sekadar untuk mengingat masa lalu, tetapi untuk memastikan musik tradisional Bali tetap hidup, berkembang dan memiliki tempat dalam perjalanan musik Indonesia.
















