Top Ads



Badung, Bali (Redaksi) – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali I Putu Winastra mendorong transformasi pariwisata Pulau Dewata menuju konsep regenerative tourism atau pariwisata regeneratif.

Konsep ini menekankan pariwisata tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap destinasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, budaya, dan lingkungan.

- Inline Ads -

“Regenerative tourism bukan hanya tentang bagaimana kita mengurangi dampak negatif pariwisata, tetapi juga tentang bagaimana pariwisata dapat memberikan dampak positif dan meninggalkan destinasi dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya,” ujar Winastra dalam Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali di Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat.

Dalam Musda yang mengusung tema “Repositioning the Future of Tourism”, Winastra mengatakan, perubahan industri pariwisata menuntut ASITA untuk memperkuat peran, tidak hanya sebagai penghubung wisatawan dengan destinasi, tetapi juga sebagai penggerak pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Ia menilai Bali memiliki nilai-nilai kehidupan yang selaras dengan prinsip pariwisata regeneratif, terutama keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Karena itu, pengembangan pariwisata perlu mempertimbangkan manfaat kunjungan wisatawan bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya, serta keberlangsungan lingkungan.

Winastra menegaskan, ASITA Bali memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan tersebut karena biro perjalanan wisata berinteraksi langsung dengan wisatawan dan memiliki peran dalam menentukan destinasi yang dikunjungi, aktivitas yang dilakukan, serta produk wisata yang dipilih.

“Kita harus mampu bertransformasi, dari sekadar pelaku transaksi menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata. Dari sekadar menjual destinasi menjadi ikut menjaga kualitasnya. Dari sekadar membawa wisatawan menjadi menciptakan perjalanan yang bermakna,” katanya.

Menurutnya, biro perjalanan wisata dapat mengarahkan wisatawan untuk mengenal desa wisata, membeli produk lokal, menghargai budaya setempat, menjaga lingkungan, dan menyebarkan manfaat ekonomi secara lebih merata.

Dengan demikian, wisatawan tidak sekadar datang dan pergi, tetapi turut berkontribusi terhadap keberlanjutan destinasi yang dikunjungi.

Pewarta: Rolandus NampuEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © Redaksi 2026

- Bottom Ads -