Denpasar (Tim Redaksi) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali melakukan mengintensifkan operasi pasar untuk mengantisipasi musim kering akibat fenomena El Nino yang bisa berdampak pada harga bahan pangan.
“Beberapa risiko inflasi yang perlu dicermati antara lain berlanjutnya fenomena El Nino dan mundurnya awal musim hujan,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Senin.
Operasi pasar dilakukan untuk komoditas tertentu yang diperkirakan mengalami kenaikan harga akibat musim kering yang lebih panjang.
Menurut dia, berlanjutnya fenomena El Nino dan mundurnya awal musim hujan berpotensi mengganggu produksi pangan, khususnya komoditas hortikultura.
Selain itu, potensi gangguan distribusi pangan antardaerah termasuk melalui jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, serta masih tingginya biaya angkutan barang global juga perlu menjadi perhatian.
Di sisi lain, meredanya aktivitas kunjungan wisatawan setelah periode puncak liburan diprakirakan dapat mengurangi tekanan inflasi dari sisi permintaan.
Adapun langkah implementasinya di antaranya melalui intensifikasi gerakan pangan murah, pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan.
Kemudian, pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Selain mengintensifkan operasi pasar, perwakilan bank sentral di Bali itu akan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah termasuk TPID salah satunya strategi konvensional yaitu 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, secara bulanan pada September 2026 Pulau Dewata mengalami inflasi sebesar 0,32 persen, lebih rendah dibandingkan Agustus yang mengalami inflasi sebesar 0,61 persen.
Inflasi bulanan di Bali dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya harga pakan, yang mendorong kenaikan harga ayam ras di tingkat konsumen, serta kemarau berkepanjangan yang diiringi oleh El Nino dan serangan hama yang mempengaruhi harga cabai dan beras.
Sementara itu, inflasi di Bali secara tahunan meningkat dari 3,45 persen pada Agustus 2026 menjadi 3,79 persen pada September.
Capaian itu melebihi sasaran target inflasi yaitu 1,5 hingga 3,5 persen.
Berdasarkan informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar melalui Stasiun Klimatologi Bali, musim hujan di Bali diprakirakan mulai akhir November 2026 dan puncak pada Februari 2027.
Musim hujan di Bali diprakirakan mundur tiga hingga tujuh dasarian dari normalnya dan berlangsung dalam durasi yang lebih pendek dibandingkan musim kemarau yang lebih panjang.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















