Top Ads


Denpasar (Tim Redaksi) – Upaya merehabilitasi mangrove dan melepasliarkan kepiting oleh BUMN Bank Tabungan Negara (BTN) menambah potensi ekonomi desa dan kapasitas para nelayan yang mengelola Ekowisata Mangrove Simbar Segara di Desa Pemogan, Denpasar, Bali.

“Kami bisa lebih maju lagi, lebih detail dan lebih banyak untuk kegiatan sosial dan penanaman mangrove,” kata Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Simbar Segara Ketut Darsana di Denpasar, Bali, Jumat.

- Inline Ads -

Ia menjelaskan KUB tersebut beranggotakan 50 orang nelayan dari desa setempat yang sehari-hari juga mengelola aktivitas salah satunya wisata menelusuri hutan mangrove dengan penyewaan kano dan perahu sekoci.

Sehingga dengan penanaman 10 ribu bibit mangrove, lanjut dia, menambah daya tarik dan kerapatan mangrove, dengan dibarengi upaya perawatan berkelanjutan.

Selain itu, pelepasliaran puluhan kepiting untuk berkembangbiak juga berpeluang meningkatkan potensi ekonomi nelayan.

Alasannya, kawasan itu juga menjadi habitat alami tiga jenis kepiting yaitu kepiting hijau, ungu dan merah yang menjadi mata pencaharian para nelayan.

Ia menjelaskan rata-rata per hari dapat menangkap sekitar tiga kilogram kepiting, menyesuaikan musim tangkap yaitu periode September hingga Maret.

 

Pelepasliaran kepiting bakau di kawasan KUB Simbar Segara, Tahura Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Jumat (7/8/2026) Tim Redaksi/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

 

KUB Simbar Segara merupakan satu dari total 12 kelompok nelayan yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai seluas total 1.373,5 hektare.

Perwakilan UPTD Tahura Ngurah Rai Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Made Yuda Wibawa selaku Penelaah Teknis Kebijakan di instansi itu menjelaskan dari total luas tersebut, sebesar 1.158,44 hektare di antaranya merupakan kawasan konservasi yang menjadi sasaran rehabilitasi.

Adapun penanaman 10 ribu bibit mangrove itu diperkirakan setara untuk satu hektare lahan bakau.

Penanaman dilakukan dengan pola khusus menggunakan kantong tanam dan dilindungi bambu agar memiliki daya tahan dari pasang surut air dan adaptasi lingkungan.

Selain ekowisata, ia menambahkan kawasan itu juga dikenal penghasil kepiting yang harga jualnya diperkirakan mencapai sekitar Rp300 ribu per kilogram dan bisa lebih dari dua kali lipat harganya jika membeli di restoran.

Sementara itu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menjelaskan ekonomi hijau saat ini menjadi salah satu pilar penting industri perbankan dalam mendorong aspek ramah lingkungan dan pemberdayaan komunitas termasuk para nelayan.

Ia menilai keberadaan mangrove memiliki arti penting, tak hanya menjadi benteng wilayah pesisir dan sumber oksigen terbesar dunia, tapi juga pusat pertumbuhan ekonomi.

Apalagi Indonesia memiliki 23 persen dari total luas mangrove global, berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI atau sekitar 3,45 juta hektare, menjadi yang terbesar di dunia.

“Hutan mangrove selain sebagai ekosistem perikanan tapi juga untuk ekowisata. Potensi ini bisa dikembangkan untuk ekosistem lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, selain menanam bibit mangrove dan melepas kepiting juga diadakan pemungutan sampah plastik yang berdasarkan data KUB setempat per hari rata-rata mengumpulkan sekitar 10 kilogram sampah plastik.

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026

- Bottom Ads -