Top Ads



Denpasar (Tim Redaksi) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali mulai menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendorong digitalisasi di sektor perikanan budidaya khususnya inovasi Analisis Kualitas Air Digital (AKAD).

“Teknologi ini memungkinkan pembudidaya memantau kualitas air kolam secara ‘real time’ sehingga dapat menekan risiko kematian ikan sekaligus meningkatkan produktivitas usaha budidaya,” kata Kepala DKP Provinsi Bali Putu Sumardiana di Denpasar, Kamis.

- Inline Ads -

Sumardiana yang meluncurkan inovasi ini secara daring langsung memberikan sosialisasi dan bimbingan teknis melibatkan Dinas Perikanan kabupaten/kota se-Bali, Diskominfos Bali, pembudidaya ikan, pelaku usaha perikanan, Asosiasi Koki Bali, serta kalangan akademisi.

Penggunaan IoT untuk mengukur kualitas air kolam ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan budidaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta tantangan perubahan lingkungan.

Menurut DKP Bali, keberhasilan usaha budidaya saat ini tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, melainkan harus didukung data yang akurat agar keputusan yang diambil lebih tepat.

“Budidaya perikanan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, pengambilan keputusan harus didukung oleh data yang akurat, maka melalui inovasi AKAD berbasis IoT, pembudidaya dapat memantau kondisi kualitas air sehingga potensi gangguan terhadap ikan dapat diantisipasi lebih cepat,” ujarnya.

Kualitas air sendiri adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya ikan, parameter seperti suhu, tingkat keasaman (pH), kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO), hingga kondisi lingkungan perairan harus selalu berada pada kisaran ideal agar pertumbuhan ikan optimal dan risiko kematian dapat ditekan.

Selama ini, pemantauan kualitas air kolam di sebagian besar lokasi budidaya di Provinsi Bali masih dilakukan secara manual dan berkala.

Sumardiana menjelaskan bahwa cara tersebut memiliki keterbatasan karena kondisi air dapat berubah sewaktu-waktu akibat cuaca, kepadatan ikan, maupun aktivitas biologis di dalam kolam.

Dengan sistem AKAD Berbasis IoT, sensor digital akan mengukur kualitas air secara otomatis dan mengirimkan hasilnya melalui jaringan internet, data tersebut dapat dipantau melalui komputer maupun telepon pintar pembudidaya secara langsung.

Selain itu, sistem juga dilengkapi fitur peringatan dini, di mana ketika parameter kualitas air berada di luar batas ideal pembudidaya dapat mengambil tindakan penanganan dengan cepat.

“Inovasi ini kami harapkan menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan efisiensi usaha budidaya, menekan risiko kegagalan produksi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya ikan di Bali,” kata Sumardiana.

Tidak hanya itu, rekam data yang dihasilkan sistem juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi budidaya, penyusunan strategi produksi, hingga mendukung penyusunan kebijakan sektor perikanan berbasis bukti (evidence-based policy).

Pemprov Bali melalui Dinas KP Bali mengembangkan inovasi ini bekerja sama dengan Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Pihak kampus dalam bimbingan teknis memberi pengetahuan dasar teori hingga praktik penggunaan teknologi ini.

Peserta mendapat demonstrasi penggunaan perangkat AKAD, cara membaca hasil pengukuran, menginterpretasikan data kualitas air, hingga langkah-langkah penanganan berdasarkan informasi yang dihasilkan sistem.

Melalui peluncuran AKAD berbasis IoT, Pemprov Bali menegaskan komitmen menghadirkan inovasi pelayanan publik yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026

- Bottom Ads -