Denpasar (Tim Redaksi) – Dinas Perhubungan (Dishub) Bali memperkirakan sebanyak 1,7 juta orang akan meninggalkan Pulau Dewata selama periode mudik Lebaran 2026 yang puncaknya diperkirakan pada 17 Maret.
“Orang yang ke luar Bali pada (mudik) Lebaran 2025 itu 1,658 juta, tahun ini (2026) kurang lebih naik 4 persen (menjadi 1,724 juta), dan kami prediksi puncak arus mudiknya 17 Maret,” kata Kepala Dishub Bali I Kadek Mudarta di Denpasar, Selasa.
Mudarta menjelaskan jika dilihat berdasarkan pola tahunan, maka saat puncak arus mudik 17 Maret jumlah penumpang dan kendaraan yang akan keluar masuk naik 4 persen dari kondisi pada 2025 dengan 30 ribu kendaraan dan 170 ribu penumpang, atau menjadi sekitar 31.200 kendaraan dan 176.800 orang.
Di Bali, arus mudik Hari Raya Idul Fitri menunjukkan tingginya jumlah orang yang ke luar Bali, dengan pergerakan pemudik dimulai dari 14 Maret.
Untuk itu, demi memastikan kelancaran di jalur mudik, Dishub Bali bersama kepolisian membentuk Posko Angkutan Lebaran sejak 13 Maret 2026 di 26 titik posko se-Bali.
Lonjakan signifikan terutama di Pelabuhan Gilimanuk dan Bandara I Gusti Ngurah Rai akan terasa mulai 16 Maret dengan puncak 17 Maret, karena pada 19 Maret bertepatan Hari Raya Nyepi.
“Puncaknya kalau di Pelabuhan Gilimanuk itu mulai 16 Maret kemudian 17 Maret, dengan nasional sedikit ada perbedaan karena kalau di Bali Nyepi, orang mengantisipasi Nyepi sehingga cenderung lebih awal dibanding pergerakan di tempat lain yang tidak ada Nyepi apalagi ada rangkaian Pengerupukan jadi sudah ada pergerakan,” ujar Mudarta.
Posko Angkutan Lebaran akan berdiri hingga 29 Maret 2026, dengan total pergerakan keluar-masuk Bali diproyeksikan sebanyak 365 ribu kendaraan dengan 2,468 juta penumpang.
Untuk mengantisipasi penumpukan pemudik, Dishub Bali mengimbau calon pemudik memetakan rencana perjalanannya.
Sementara itu, untuk antisipasi penumpukan di penyeberangan seperti Pelabuhan Gilimanuk, Mudarta mengatakan telah disiapkan buffer zone atau zona-zona penyangga untuk menekan jumlah antrian di jalan raya.
“Zona-zona untuk penyangga ada di beberapa daerah, baik di pelabuhan logistiknya, kemudian di Cekik, lalu terminal, ada beberapa zona-zona penyangga yang disiapkan, selain itu juga diberlakukan delay system atau pemudik itu dibelokkan ke jalan alternatif agar tidak menumpuk di jalan nasional,” katanya.
Setelah penumpang banyak yang meninggalkan Bali, Mudarta mengatakan mereka akan kembali saat arus balik yang diperkirakan melonjak pada 25 dan 28 Maret 2026.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
















