Top Ads



Jakarta (Tim Redaksi) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) tidak bertentangan dengan klaim swasembada, karena jumlahnya sangat kecil dan bersifat khusus buat turis-turis asing yang berkunjung ke Indonesia.

“Itu baru akan (diimpor). Itu pun kalau (jadi) diimpor itu adalah beras khusus karena (beras jenis) basmati sesuai dengan (selera) turis-turis yang datang, investor (yang) datang,” kata Amran dikonfirmasi di sela-sela kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya sebanyak 545 ton senilai Rp18,2 miliar ke negara Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta, Selasa.

- Inline Ads -

Ia menjelaskan beras yang direncanakan diimpor merupakan beras khusus jenis basmati untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu, bukan beras konsumsi umum masyarakat Indonesia.

Beras khusus tersebut diperuntukkan bagi segmen restoran, hotel, serta kebutuhan wisatawan dan investor asing yang memiliki preferensi rasa berbeda dari beras lokal.

“Karena ‘taste‘-nya ini untuk turis kita yang datang,” ujar Amran.

Amran pun mencontohkan calon jamaah haji Indonesia di Tanah Suci cenderung memilih beras lokal dibandingkan beras Arab Saudi karena cita rasa lebih sesuai selera masyarakat Indonesia.

“Jadi, sama kita ke mana nih berangkat (haji), senangnya beras yang pulen, yang beras inpari, Cianjur,” jelasnya.

Impor beras ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik dengan Amerika Serikat. Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) disebutkan bahwa Indonesia akan mengimpor komoditas pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS.

Salah satu komoditas tersebut adalah beras dengan total 1.000 ton beras per tahun. Beras ini meliputi gabah, beras lepas kulit, beras putih dan beras pecah (menir).

- Bottom Ads -