Alam dan manusia merupakan dua elemen yang tak terpisahkan dalam kehidupan, terutama dalam konsep Tri Hita Karana yang mengedepankan keselarasan antara manusia (Pawongan), alam (Palemahan), dan Tuhan (Parahyangan). Di Tabanan, filosofi ini telah menjadi dasar dari berbagai upaya pelestarian budaya dan alam yang digalakkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Salah satu wujud nyata dari penerapan filosofi ini adalah melalui garapan tari bertajuk “Pratiti Wana Kerthi” yang dipersembahkan oleh SMP Negeri 3 Selemadeg Timur.
Garapan ini terinspirasi dari tema Pesta Kesenian Bali XLIII Tahun 2021, “Purna Jiwa Prananing Wana Kerthi,” yang mengangkat pentingnya hutan dan alam sebagai sumber kehidupan. Dengan memuliakan pohon sebagai simbol lingkungan yang lestari, garapan ini tidak hanya sekadar hiburan tetapi juga bentuk edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kepala SMP Negeri 3 Selemadeg Timur, Ni Made Ratnadi, S.Pd, M.Pd, menegaskan bahwa karya ini adalah aksi nyata dalam melestarikan konsep luhur Tri Hita Karana oleh para siswa sekolah tersebut.

Dalam garapan ini, pohon tidak hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang tak ternilai bagi umat manusia. Pohon menyediakan udara, air, dan menjaga keseimbangan tanah, semuanya demi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, melalui tarian ini, para siswa SMP Negeri 3 Selemadeg Timur ingin menyampaikan pesan betapa berharganya pohon dan lingkungan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kadek Ayu Puspa Sri Astuti, S.Pd, seorang guru dan praktisi seni yang juga menjadi kreator dari garapan ini, menjelaskan bahwa tarian ini pertama kali digarap pada bulan Agustus 2023 dalam rangka Pentas Kreasi P5 (Keday Paksi) di SMP Negeri 3 Selemadeg Timur. Garapan ini kemudian ditampilkan dalam beberapa acara penting, seperti perayaan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2023, pembukaan Pekan Ulang Tahun SMP Negeri 3 Selemadeg Timur pada 23 Januari 2024, serta kegiatan Student Led Conference pada 30 Mei 2024.
Garapan “Pratiti Wana Kerthi” tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya, tetapi juga untuk mendidik generasi muda agar memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan. Dalam konteks pembangunan seni dan budaya di Tabanan, Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, telah menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan seni budaya sebagai salah satu pilar pembangunan daerah. Hal ini sejalan dengan visi SMP Negeri 3 Selemadeg Timur untuk menciptakan generasi yang berprestasi, beriman, berkarakter, dan berbudaya (Resmankarya).
Tarian ini melibatkan 75 penari, terdiri dari 15 penari inti dan 60 figuran. Melalui gerakan-gerakan yang menggambarkan kehidupan hutan dan pohon, para siswa berupaya untuk menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dalam setiap penampilannya, garapan ini berhasil mengajak penonton untuk merenungkan kembali hubungan mereka dengan alam dan bagaimana mereka dapat berperan aktif dalam menjaga keseimbangannya.
Pemerintah Kabupaten Tabanan, di bawah kepemimpinan Komang Gede Sanjaya, terus berupaya untuk mendorong pengembangan seni dan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Seni budaya dianggap sebagai cerminan dari identitas dan jati diri masyarakat Tabanan, yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Melalui berbagai kegiatan seni budaya, seperti garapan tari “Pratiti Wana Kerthi” ini, diharapkan generasi muda Tabanan dapat tumbuh menjadi generasi yang genius, adaptif, humanis, unggul, serta handal (Generasi Gadungan), namun tetap berpijak pada prinsip kesederhanaan Sadhu Amukti Jayanthi (SAKTI).
Garapan ini juga merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh SMP Negeri 3 Selemadeg Timur. Dengan mengajarkan para siswa untuk memuliakan alam, sekolah ini secara tidak langsung juga turut mensukseskan visi misi Kabupaten Tabanan yang selaras dengan kebijakan pembangunan seni budaya yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.


Ni Made Ratnadi, S.Pd, M.Pd, selaku Kepala SMP Negeri 3 Selemadeg Timur, menegaskan bahwa garapan ini adalah bentuk implementasi nyata dari pendidikan karakter melalui seni dan budaya. Dengan melibatkan para siswa dalam kegiatan seni seperti ini, diharapkan mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam konsep Tri Hita Karana.
Penampilan tarian ini yang rencananya akan digelar kembali pada 16 Agustus dalam rangka HUT ke-79 RI di Desa Gadungan, menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya dapat menjadi alat yang efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang berbudaya dan berkepribadian kuat. Garapan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Tabanan untuk terus mengembangkan potensi seni dan budaya di kalangan siswa, sebagai bagian dari upaya bersama dalam melestarikan warisan budaya dan alam Bali.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan oleh SMP Negeri 3 Selemadeg Timur dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, khususnya Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan akan semakin kuat di kalangan generasi muda. Tabanan sebagai daerah yang kaya akan budaya dan alam, memiliki tanggung jawab besar untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan ini agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Melalui tarian “Pratiti Wana Kerthi,” SMP Negeri 3 Selemadeg Timur telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk melalui seni dan budaya. Dengan demikian, pembangunan seni dan budaya di Tabanan akan semakin berkembang, sejalan dengan upaya menjaga kelestarian alam dan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.
















