Denpasar (Tim Redaksi) – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyarankan pemerintah daerah (Pemda) agar fokus mengendalikan komoditas yang sering menjadi pemicu kenaikan harga melihat kondisi inflasi tahunan September 2026.
“Untuk menjaga inflasi ya komoditas pemicu itu yang harus diperhatikan, yang mendorong inflasi itu satu ketersediaannya yang kedua distribusinya, sebenarnya mengidentifikasinya lebih mudah kalau komoditasnya itu-itu saja,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Kamis.
BPS sendiri mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026 telah mencapai 3,79 persen, angka ini melampaui target nasional sebesar 2,5 persen dengan rentang plus minus satu hingga maksimal 3,5 persen.
Peningkatan inflasi tersebut disumbang oleh sebelas kelompok pengeluaran yang semuanya tercatat mengalami inflasi, dengan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Transportasi sebagai penyumbang andil terbesar.
Agus Gede merincikan, terdapat enam komoditas utama yang mendominasi inflasi September 2026 yang juga kerap kali masuk dalam jajaran penyumbang inflasi.
Itu meliputi bensin sebesar 8 persen dengan andil 0,42 persen, cabai rawit sebesar 76,48 persen dengan andil 0,23 persen, serta daging ayam ras sebesar 6,64 persen dengan andil 0,19 persen.
Selanjutnya minyak goreng sebesar 9,4 persen dengan andil 0,14 persen, emas perhiasan sebesar 33,3 persen dengan andil 0,12 persen, dan jasa pemeliharaan atau servis sebesar 7,37 persen dengan andil 0,11 persen.
“Jadi komoditas itulah yang dijaga ketersediaan maupun jalur distribusinya, kan dari beberapa komoditas itu sebenarnya ada juga yang karena pengaruh distribusi yang kurang lancar, banyak yang kita datangkan dari luar Bali berarti harusnya distribusinya lancar,” ujar dia sebagai saran bagi pemda.
Meski inflasi tahunan September 2026 melampaui batas, BPS Bali menilai kondisi tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan apabila didukung oleh pergerakan aktivitas ekonomi serta ketahanan daya beli masyarakat yang tetap kuat.
“Kalau misalnya ini karena pergerakan ekonomi atau produksi yang mengalami peningkatan dan seterusnya diikuti oleh ketahanan daya beli masyarakat, saya kira angka 3,79 persen juga masih tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujar Agus.
Dari empat wilayah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali, tiga daerah tercatat melampaui ambang batas 3,5 persen secara tahunan, yaitu Kabupaten Tabanan sebesar 4,54 persen, Kabupaten Badung 3,95 persen, dan Singaraja 3,87 persen, sementara Kota Denpasar berada di angka 3,42 persen.
Selain memaparkan data tahunan, BPS Bali turut merinci perkembangan inflasi bulanan pada September 2026, di mana angkanya 0,32 persen atau tergolong cukup tinggi.
Secara bulanan, komoditas pemicu yang mencatatkan lonjakan harga paling mencolok adalah pangan seperti cabai rawit sebesar 23,27 persen dan daging ayam ras sebesar 5,97 persen.
“Itu dua komoditas yang kami lihat harganya memang mengalami peningkatan di pasar dan dua komoditas ini juga memberikan sumbangan yang relatif besar terhadap pergerakan harga-harga secara umum,” ujar Agus Gede.
Lonjakan harga daging ayam ras utamanya dipicu oleh peningkatan biaya produksi khususnya pakan, sementara kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh faktor musim kemarau serta serangan organisme pengganggu tanaman yang mengganggu hasil produksi.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















