Denpasar (Tim Redaksi) – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditarget naik dalam Rancangan Perubahan APBD 2026 bersumber dari optimalisasi aset daerah yang selama ini mangkrak dan tidak dikelola secara produktif.
Koster di sela-sela menjawab pandangan umum fraksi di DPRD Bali, Senin, menjelaskan optimalisasi PAD, dilakukan melalui penguatan basis data, digitalisasi pelayanan, peningkatan kepatuhan wajib pajak dan wajib retribusi, optimalisasi potensi daerah atau optimalisasi aset.
Kemudian, peningkatan produktivitas BUMD secara terukur dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian fiskal daerah dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dalam Raperda tentang Perubahan APBD 2026, pendapatan daerah direncanakan sebesar Rp6,66 triliun atau naik 1,54 persen dari anggaran induk.
Gubernur Bali menjelaskan bahwa lonjakan target komponen pendapatan telah disusun secara matang, memperhitungkan potensi nyata, realisasi real time, serta efisiensi penerimaan daerah.
Sebagai bukti optimalisasi aset mangkrak, kata dia, di antaranya penanganan aset di Padang Galak atau Taman Festival di Sanur yang mangkrak sejak 1980-an, kini berhasil menyumbang pendapatan Rp60 miliar ke kas daerah.
Langkah serupa dilakukan pada aset 50 are di kawasan Renon yang dialihkan menjadi penyertaan modal di BPD Bali, lahan tersebut dinilai melalui appraisal sebesar Rp145 miliar.
“Sehingga BPD itu sekarang permodalannya jadi naik, begitu jadi bayangkan itu dari dulu berpuluh-puluh tahun sejak itu ada barangkali tidak pernah menjadi sumber pendapatan, mulai kita kelola dengan baik jadi bisa dapat Rp30-an miliar per tahun karena penyertaannya mulai taruh di BPD Maret 2026,” ujarnya.
Optimalisasi aset terbesar juga diterapkan pada lahan 39,8 hektar di Nusa Dua yang sebelumnya sempat bermasalah, pihak ketiga sepakat membayar sebesar Rp850 miliar secara bertahap.
Tahap pertama senilai Rp425 miliar telah masuk ke kas daerah, yang kemudian sebagian dana tersebut diputar kembali menjadi tambahan penyertaan modal di Bank BPD Bali.
Total penyertaan modal Pemprov Bali di BPD Bali kini melonjak menjadi Rp1,28 triliun, menurut Koster kebijakan penataan aset ini diyakini memberikan kepastian pendapatan tetap.
Melihat target kenaikan PAD bisa disokong oleh optimalisasi aset, Pemprov Bali juga kini berencana mengembangkan pusat pertumbuhan di Bali Barat, yakni Buleleng dan Jembrana.
“Sinergi juga dengan pemerintah pusat sehingga aset kita ini bekerja dan tidak lagi telantar, kemarin saya meninjau di Sanur ada yang mesti dibenahi, kami akan terus bergerak untuk menata anggaran aset ini agar dapat dikelola secara optimal,“ tutur Koster.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















