Singaraja, Bali (Tim Redaksi) – Kabupaten Buleleng membutuhkan penguatan konektivitas, pariwisata berkualitas dan nilai tambah dari hilirisasi sektor kelautan, perikanan dan pertanian untuk mendorong pemerataan ekonomi Pulau Dewata.
“Tantangan ekonomi Bali saat ini aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah Bali selatan,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng Putu Ayu Reika Nurhaeni, melalui rilis yang diterima di Denpasar pada Jumat.
Menurut dia, pengembangan Bali Utara merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi Pulau Dewata secara keseluruhan, agar manfaat pembangunan yang dapat dirasakan di seluruh wilayah Bali.
Untuk mendorong penguatan ekonomi Bali Utara, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengadakan Balinomics, forum diskusi yang menjadi katalis sinergi antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan pembangunan dan pemerataan ekonomi di Bali.
Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menekankan pentingnya penciptaan nilai tambah komoditas unggulan daerah khususnya di Bali Utara sebagai langkah pemerataan ekonomi, termasuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Pasalnya, konsentrasi ekonomi di Bali selatan tercermin dari kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali Selatan yaitu Denpasar, Badung dan Gianyar (Sarbagia) mencapai 58 persen terhadap PDRB Bali.
Realisasi penanaman modal juga terkonsentrasi di tiga kabupaten itu mencapai Rp30,49 triliun dengan menguasai pangsa 81,64 persen sepanjang 2026.
Sementara itu, salah satu pengusaha dalam diskusi itu Alisjahbana Haliman mengungkapkan, Bali memiliki banyak komoditas unggulan yang dibutuhkan pasar domestik dan internasional mulai dari kopi, rumput laut, anggur.
Meski begitu, Ali menegaskan, yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk meningkatkan nilai tambah adalah memperkuat rantai nilai mulai dari jaminan mutu, keberlanjutan pasokan dan perluasan pasar.
Selama ini, Kabupaten Buleleng dikenal sebagai penghasil produk perkebunan, hortikultura hingga perikanan.
Saat ini konektivitas Bali Selatan-Utara tersambung melalui proyek jalan pintas/short cut yang beberapa titik sudah rampung dan sisanya dalam proses pengerjaan.
Meski begitu, salah satu kunci konektivitas Bali Selatan-Utara yang belum terealisasi yaitu kereta api sesuai yang tertera dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 2 tahun 2023.
Dalam pasal 20 ayat 2 perda itu, sistem jaringan kereta api itu yakni di kawasan perkotaan Sarbagia, koridor Bali Utara-Bali Selatan dan kereta api melingkar mengelilingi Bali.
Saat ini, rencana membangun kereta trem listrik berbasis baterai dalam tahap penandatanganan kerja sama antara Pemprov Bali, Pemkab Badung dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada Selasa (1/9/2026).
Trem itu rencananya dibangun di Bali selatan tepatnya menghubungkan rute Bandara Ngurah Rai-Canggu yang diperkirakan menelan anggaran Rp2 triliun.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















