Top Ads



Jakarta (Tim Redaksi) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup melemah, yang mana investor mencermati tata kelola dan kredibilitas kebijakan Indonesia.

IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.

- Inline Ads -

“Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata saat dihubungi Tim Redaksi di Jakarta, Rabu.

Liza memaparkan setidaknya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor, di antaranya governance and policy credibility (tata kelola dan kredibilitas kebijakan) pasca outlook negatif dari Moody’s dan Fitch Rating, dan tekanan kurs rupiah yang mendekati level 18.000 per dolar AS.

Kemudian, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, foreign outflow (dana asing keluar) yang terus berlanjut, serta yang paling hot belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global.

“Apakah Indonesia sedang memasuki fase structural de-rating? Mungkin saja, tetapi belum tentu. Nyatanya saat ini pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibanding emerging markets lain,” ujar Liza.

Pelemahan IHSG juga terasa semakin kontras saat beberapa Bursa global justru mampu mencatatkan rekor baru masing-masing.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.742,76 poin atau 2,61 persen ke 68.477,00, indeks Shanghai menguat 8,87 poin atau 0,22 persen ke 4.083,97, indeks indeks Hang Seng melemah 405,11 poin atau 1,56 persen ke 26.038,32, dan indeks Strait Times menguat 37,29 poin atau 0,73 persen ke 5.134,98.

Liza menjelaskan fokus investor saat ini bergeser ke dua pekan paling krusial pada tahun ini.

Pada 19 Juni 2026, akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review, disusul oleh FTSE Rebalancing efektif 22 Juni 2026, serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.

Setelah Moody’s dan Fitch, Liza menyebut bahwa FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.

“Menariknya, hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah muncul dalam enam bulan terakhir, di antaranya rupiah melemah, foreign outflow meningkat, Moody’s dan Fitch negatif, kekhawatiran terhadap S&P meningkat, serta MSCI dan FTSE melakukan review terhadap Indonesia,” ujar Liza.

 

Pewarta: Muhammad HeriyantoEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026

- Bottom Ads -