Top Ads



Denpasar (Tim Redaksi) – Gubernur Bali Wayan Koster menjawab aspirasi mahasiswa Universitas Udayana (Unud) dengan memastikan selama ini penanganan sampah terus berjalan.

“Adik-adik menuntut supaya ini cepat selesai, sama, saya juga ingin cepat selesai tidak ada yang mau membiarkan situasi ini, karena itu sekarang kami dorong pengelolaan di sumber tingkat rumah tangga, sementara Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung mempercepat pengadaan tas kompos,” kata dia.

- Inline Ads -

Di Wantilan DPRD Bali, Denpasar, Rabu, Gubernur Koster juga menyebut dalam penanganan sampah sudah dilakukan pengadaan teba moderen untuk menampung sampah organik, namun tak mudah di Denpasar sebab merupakan kawasan pemukiman padat dengan lahan terbatas.

Gantinya, Wali Kota Denpasar sudah mengalokasikan anggaran untuk 176 ribu tas kompos namun penyedia baru merealisasikan 40 ribu sehingga masih perlu menunggu.

Di samping itu untuk menyaring sampah organik yang tidak dikelola di rumah tangga, sudah dan terus dibangun TPS3R serta TPST namun belum optimal karena masih menunggu mesin pengolah yang akan menyelesaikan lebih banyak sampah.

“Dari semula hanya posisinya 30 persen sekarang sudah mencapai 70 persen warga memilah sampah, dengan pemilahan ini maka pengolahan sampah itu lebih mudah, tapi di Denpasar ini 1.033 ton per hari, 60 persennya adalah organik berarti sekitar 600 ton per hari yang harus diolah,” ujarnya.

Pemprov Bali ingin para mahasiswa tahu bahwa penanganan sampah terus bergerak tetapi di tengah prosesnya, penutupan TPA Suwung tetap harus ditutup menyusul aturan Kementerian LH dan banyaknya masalah yang muncul dari gunung sampah setinggi 45 meter itu.

“Jadi dorongan adik-adik untuk mempercepat penanganan sampah di Bali selesai sama, saya sebagai gubernur juga sama, tapi ada prioritas yang harus kita selesaikan karena itu saya mengambil posisi TPA Suwung ini harus diselesaikan, Pak Menteri Lingkungan Hidup sudah ambil kebijakan paling lambat 31 Maret 2026 sudah berakhir sampah organik dan 1 Agustus TPA Suwung tidak lagi bisa menampung sampah organik maupun juga non-organik dan residu,” tutur Koster.

Ratusan mahasiswa Universitas Udayana sendiri datang dengan keluhan memburuknya kondisi pengelolaan sampah di Bali, ditambah meningkatnya praktik pembakaran sampah yang dilakukan oleh masyarakat akibat tidak adanya solusi konkret atas penutupan TPA Suwung yang terlalu mendadak tanpa solusi.

Ketua BEM PM Universitas Udayana I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa menyebut setidaknya ada enam tuntutan yang dibawa mahasiswa seperti audit segala penyelenggaraan tentang pengolahan sampah secara terbuka sebab hingga saat ini mahasiswa tidak tahu sejauh mana penanganan dari Pemprov Bali. 

Kemudian pengoptimalan TPS3R, lalu gubernur agar memperbaiki pola komunikasi dan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan tidak memunculkan drama antar-pejabat.

“Kami juga ingin untuk membentuk satuan tugas khusus untuk menyelesaikan permasalahan sampah ini untuk dipercepat, baik dalam penyelenggaraan dananya maupun implementasi, selama ini kan alasannya itu, peraturan ada tapi implementasi di lapangan tidak ada,” kata Oka.

Kesempatan aksi yang disambut Gubernur Koster dan jajaran pimpinan DPRD Bali ini juga dimanfaatkan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi agar Pemprov Bali memiliki kanal aduan yang dikelola gubernur langsung.

Selain urusan sampah, Oka mengatakan kanal aduan ini juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan masalah di daerah seperti masalah infrastruktur.

Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026

- Bottom Ads -