Denpasar (Tim Redaksi) – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mengumumkan pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2025 mencapai 5,82 persen sekaligus menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
“Jadi selama tujuh tahun terakhir kalau kita lihat datanya memang 5,82 persen, itu merupakan pertumbuhan yang tertinggi,” ucap Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Kamis.
Pertumbuhan ekonomi Bali yang sebesar 5,82 persen itu melampaui pertumbuhan sebelum pandemi COVID-19 yaitu pada 2019 sebesar 5,60 persen, kemudian 2020 mengalami kontraksi 9,34 persen.
Selanjutnya, pada 2021 mengalami perbaikan meski masih rentang kontraksi 2,46 persen, pada 2022 tumbuh positif mencapai 4,84 persen, kemudian pada 2023 mencapai 5,72 persen dan pada 2024 sebesar 5,48 persen.
Jika dilihat berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) maka secara kumulatif Januari-Desember sepanjang 2025 nilai PDRB Bali mencapai Rp177,99 triliun, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya masih mencapai Rp168,20 triliun.
“Pertumbuhan kita kan sempat mengalami kontraksi yang dalam ketika COVID-19, habis itu pelan-pelan mulai tahun 2022 kita mencatatkan pertumbuhan, pertumbuhannya terus berlanjut semakin baik dan di 2025 menjadi angka pertumbuhan tertinggi,” ujar Agus Gede.
Jika dilihat berdasarkan struktur lapangan usahanya, yang memberi kontribusi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang 2025 masih sektor pariwisata yaitu kategori Akomodasi dan Makan Minum dengan sumbangan PDRB 22,27 persen.
Penyumbang pertumbuhan lainnya adalah kategori Pertanian Kehutanan dan Perikanan sebesar 13,12 persen, Transportasi dan Pergudangan 10,20 persen, Konstruksi 9,02 dan seterusnya hingga kontribusi terkecil dari Pengadaan Air 0,15 persen.
Namun jika dilihat dari laju pertumbuhannya, sepanjang 2025 laju tertinggi pada lapangan usaha Administrasi Pemerintahan yang tumbuh 10,99 persen, diikuti Akomodasi dan Makan Minum 10,25 persen, dan Jasa Perusahaan 7,84 persen.
Menurut data BPS Bali, laju pertumbuhan Administrasi Pemerintahan tinggi karena realisasi belanja pegawai yang bersumber dari APBN dan APBD 2025 meningkat yaitu 8,25 persen dan 13,21 persen.
Sementara pada sektor pariwisata yaitu Akomodasi dan Makan Minum linear sebagai penyumbang struktur PDRB dan laju pertumbuhannya tinggi, sebab tahun 2025 kunjungan wisatawan mancanegara naik 9,72 persen dan wisatawan nusantara 17,53 persen.
“Dari 17 kategori semuanya mencatat pertumbuhan, jadi relatif baik bahkan sebagian besar menunjukkan kinerja sangat baik antara struktur PDRB dengan laju pertumbuhan kecuali pertanian karena produksi padi turun,” ujar Agus Gede.
Sementara jika dilihat berdasarkan pengeluarannya, BPS Bali memotret Konsumsi Rumah Tangga memberi kontribusi paling besar yaitu selama 2025 mencapai 52,52 persen dan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga ini naik 5,47 persen secara kumulatif.
Atas kondisi pertumbuhan ekonomi Bali 2025 ini, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra menyatakan ekonomi Bali pulih sepenuhnya pascapandemi COVID-19.
“Semua indikator makro pembangunan kita mengalami kemajuan yang signifikan, contohnya pertumbuhan ekonomi ini angka tertinggi dalam 7 tahun terakhir, artinya ekonomi Bali sudah pulih betul,” ucapnya.
Meski pertumbuhan ekonomi Bali cenderung positif, Bappeda Bali masih tetap mengkaji sektor yang kuat dan berkontribusi tinggi agar bisa dipertahankan serta kategori yang masih lemah untuk dievaluasi.
“Jadi ini satu instrumen evaluasi untuk program atau merancang pembangunan Bali ke depan yang lebih efektif, yang lebih memberikan manfaat bagi masyarakat, tidak hanya angka-angkanya positif, tetapi juga manfaat signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Bali,” kata Ika.
















