Tabanan – Ribuan penonton memenuhi Wantilan Desa Adat Bedha, Tabanan, Sabtu (8/11), menyaksikan kemeriahan Lomba Balaganjur Ngarap se-Bali bertajuk “Mepadu Arep”. Sebanyak 16 sekaa dari empat kabupaten, yakni Tabanan, Jembrana, Gianyar, dan Buleleng, tampil memikat lewat garapan yang menonjolkan kekuatan ritme, vokal, dan kebersamaan, menghasilkan pertunjukan yang menggugah rasa bangga terhadap seni tabuh khas Bali.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Sanggar Seni Madu Lingga bersama komunitas Balaganjur Terkini ini menjadi ruang bagi seniman muda untuk menunjukkan kemampuan artistik sekaligus menjaga eksistensi tradisi musik Balaganjur di tengah era modern. Masing-masing sekaa menampilkan gaya garapan berbeda, memperlihatkan karakter daerah dan kreativitas penabuh muda Bali yang kian berkembang.
Konsep “Mepadu Arep” atau mepetuk menjadi magnet tersendiri karena diklaim sebagai lomba Balaganjur Ngarap Mepetuk pertama di Bali. Dalam format ini, dua sekaa tampil saling menanggapi di panggung yang dirancang menyerupai suasana prosesi pengabenan. Dekorasi lembu, damar kurung, dan perlengkapan upacara lainnya menambah kesan sakral sekaligus estetis, menghadirkan pengalaman pertunjukan yang utuh dan penuh makna.
Balaganjur ngarap sendiri merupakan tabuh yang biasa mengiringi perjalanan jenazah dari rumah menuju setra (kuburan) bagi umat Hindu Bali. Tabuhan ini berfungsi membangkitkan semangat para pengusung layon, menciptakan suasana heroik dan penuh penghormatan. Karena itu, peserta diharapkan mampu menafsirkan suasana prosesi secara musikal dan emosional, menghadirkan harmoni antara tabuh dan semangat pengusung layon.

Selama pertunjukan, setiap dentuman gamelan disambut sorak penonton yang larut dalam semangat kebersamaan. Bagi masyarakat, lomba ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi. Seni Balaganjur Ngarap kini memang semakin diminati generasi muda karena kerap dimainkan dalam upacara adat dan prosesi keagamaan.
Dewan juri yang terdiri atas seniman dan akademisi memberikan evaluasi sekaligus apresiasi atas kemajuan garapan tahun ini. I Wayan Sudiarsa, S.Sn., M.Sn., menilai seluruh peserta menampilkan karya dengan peningkatan signifikan. “Karya yang disajikan menunjukkan kreativitas tinggi, namun tetap perlu dijaga agar esensi dan fungsi tradisinya tidak luntur,” ujarnya. Sementara I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., menekankan pentingnya keseimbangan komposisi musikal. “Alat musik harus disusun proporsional agar tercipta keseimbangan antara nada tinggi, sedang, dan rendah. Di sanalah kemampuan komposer diuji untuk menyatukan teknis dan estetika secara serasi,” paparnya.
Hasil akhir menempatkan Sekaa Bandrang Mas sebagai Juara I dengan nilai 269, disusul Sekaa Pendekar 25 UNHI (266) sebagai Juara II, dan Sekaa Putra Dalam (260) sebagai Juara III. Sementara itu, Juara Harapan I diraih Sekaa Cakrabyuha (257), Harapan II oleh Sekaa Manga Datu Wadwa (254), dan Harapan III oleh Sekaa Swara Asmaralaya (252).
Ketua Panitia, I Putu Agustana, S.Sn., M.Sn., menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta atas semangat dan dedikasi mereka. “Antusiasme para penabuh dari berbagai kabupaten menunjukkan bahwa Balaganjur tetap hidup di hati generasi muda,” ujarnya. Ia berharap ajang ini terus berlanjut dengan konsep yang lebih segar dan inovatif tanpa meninggalkan akar tradisi.

Lomba Balaganjur Ngarap “Mepadu Arep” se-Bali menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan kecintaan terhadap warisan budaya Bali masih berdenyut kuat. Di tengah perubahan zaman, energi para seniman muda ini menegaskan bahwa seni tradisi tidak hanya bertahan—tetapi terus tumbuh dan menginspirasi.
















