Denpasar (Tim Redaksi) – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi pada pertengahan Oktober 2026 menjadi salah satu pemicu inflasi dari sisi hambatan arus distribusi barang.
“Pada 11-15 Oktober kita sama-sama merasakan kejadian langka di Bali di mana pasokan BBM kita berkurang, tidak mampu memenuhi kebutuhan sehingga ada kenaikan BBM, nah ini tentu berakibat ke banyak hal terutama di distribusi barang,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Senin.
Ia menjelaskan hambatan distribusi tersebut tidak bekerja sendiri melainkan dibarengi dengan keterbatasan produksi tanaman pangan dan hortikultura akibat musim kemarau panjang yang melanda Bali.
“Kedua-duanya pemicu inflasi, produksinya lebih rendah daripada permintaannya, kemudian distribusinya juga mengalami hambatan terutama di bulan kemarin itu karena krisis BBM,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong Provinsi Bali mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,25 persen pada Oktober 2026.
BPS Bali melihat kondisi inflasi bulanan tersebut tergolong lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat 0,07 persen dan Oktober 2025 yang sebesar 0,16 persen.
Secara tahun kalender (Oktober 2026 terhadap Desember 2025), laju inflasi Bali telah mencapai 2,74 persen, sementara laju inflasi tahunan (year-on-year) Bali pada Oktober 2026 menembus 3,87 persen, atau telah melampaui target ambang batas nasional sebesar 3,5 persen.
BPS Bali mencatat Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil dominan terhadap inflasi bulanan sebesar 0,18 persen dengan tingkat inflasi 0,53 persen.
Jika dilihat lebih jauh dari sisi komoditas, maka komoditas hortikultura menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dipimpin cabai merah yang mengalami inflasi 51,43 persen (andil 0,09 persen), cabai rawit 12,23 persen (andil 0,06 persen), sawi hijau 55,58 persen (andil 0,05 persen), kol putih 51,81 persen (andil 0,04 persen), dan buncis 30,26 persen (andil 0,04 persen).
Selain komoditas pertanian, daging babi turut menyumbang inflasi bulanan 2,56 persen dengan andil 0,02 persen akibat lonjakan harga pakan ternak seperti jagung dan dedak.
Jika dilihat dari sisi inflasi tahunan pada Oktober 2026, bensin menjadi komoditas penyumbang utama dengan inflasi 8,00 persen dan andil 0,42 persen sebagai dampak penyesuaian harga oleh pemerintah.
Pewarta: Ni Putu Putri MuliantariEditor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















