Denpasar (Tim Redaksi) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengungkapkan aktivitas konsumsi dan kinerja perdagangan ritel di Pulau Dewata tetap ekspansif setelah puncak musim liburan berakhir pada Agustus 2026.
“Level ekspektasi penjualan yang tetap jauh di atas 100 menunjukkan pelaku usaha masih meyakini prospek penjualan ritel Bali akan tetap tumbuh,” kata Kepala BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Bali, Kamis.
Ia menjelaskan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk tiga bulan mendatang tercatat sebesar 178, lebih rendah dibandingkan ekspektasi bulan sebelumnya sebesar 180.
Sementara itu, IEP enam bulan mendatang tercatat sebesar 168, menurun dari 188 pada survei sebelumnya.
BI Bali menilai meski ekspektasi yang lebih rendah, namun nilai di atas 100 menunjukkan optimisme.
Adapun hasil survei tersebut sejalan dengan perkiraan normalisasi aktivitas pariwisata setelah periode puncak kunjungan wisatawan serta meningkatnya ekspektasi harga yang masih relatif tinggi.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat dari 128,17 pada Agustus 2026 menjadi 130,33 pada September.
Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap positif.
Keyakinan pelaku usaha tersebut juga didukung oleh pertumbuhan kredit lapangan usaha perdagangan yang hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86 persen.
“Meskipun aktivitas pariwisata mulai mengalami normalisasi pascaperiode puncak kunjungan wisatawan, daya beli masyarakat dan prospek usaha tetap terjaga,” kata Achris menambahkan.
Selain itu, ekspektasi yang tinggi itu diproyeksikan mampu menolong meski harga umum untuk tiga dan enam bulan mendatang diperkirakan tetap berada pada level tinggi.
Berdasarkan hasil survei, indeks ekspektasi harga umum pada November 2026 dan Februari 2027 diperkirakan masing-masing tercatat sebesar 198.
Temuan tersebut mengindikasikan pelaku usaha masih memperkirakan adanya tekanan harga ke depan.
Di sisi lain, inflasi Bali pada September 2026 tercatat meningkat menjadi 3,79 persen, naik dibandingkan pada bulan sebelumnya mencapai 3,45 persen.
“Peningkatan tekanan harga hingga saat ini belum mengurangi optimisme pelaku usaha maupun masyarakat, terlihat dari tetap kuatnya prospek penjualan eceran dan terjaganya keyakinan konsumen,” ujar dia.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















