Gianyar, Bali (Tim Redaksi) – Maybank Indonesia memperkuat literasi dan inklusi keuangan untuk para pelajar khususnya di sekolah yang berada di sekitar rute ajang maraton di Kabupaten Gianyar, Bali, guna mendukung kecakapan dan kapasitas sumber daya manusia sejak dini.
“Literasi keuangan itu tidak hanya untuk pelajar tetapi juga kepada para guru,” kata Head of Sustainability Maria Trifanny Fransiska di sela kegiatan sosial pemberdayaan penyandang disabilitas di Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat.
Total ada 40 sekolah yang disasar untuk literasi keuangan yang diadakan sejak Juli hingga 23 Agustus dengan target utama pelajar kelas III-VI sekolah dasar (SD) di 35 sekolah, sekolah menengah pertama/SMP (3) dan sekolah menengah atas/SMA (2).
Materi yang diberikan mencakup pengelolaan keuangan, digitalisasi keuangan hingga edukasi agar terhindar dari judi daring (online).
Selain itu, pengembangan dan pemberdayaan inklusif kepada penyandang disabilitas yang bekerja di kafe Piduh Charity juga dilakukan dengan menyalurkan donasi nasabah senilai Rp88.656.000.
Adapun Piduh Charity Cafe memberdayakan para pegawai yang 10 orang di antaranya menyandang disabilitas berupa down syndrome hingga autisme.
Sementara itu, Asisten Direktur Bidang Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali Yogie Harsakusumah ditemui dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya lembaga jasa keuangan menginisiasi literasi dan inklusi keuangan, termasuk melakukan pemberdayaan inklusif.
Pasalnya, kata dia, munculnya pengaduan dari konsumen sebagian besar berasal dari adanya celah besar pemanfaatan produk jasa keuangan (inklusi), namun tidak didukung literasi yang memadai.
Regulator tersebut mendukung upaya peningkatan pemahaman dan pemanfaatan jasa keuangan tersebut yang dilaksanakan oleh perbankan.
Lembaga jasa keuangan termasuk perbankan, lanjut dia, wajib menyampaikan rencana literasi dan inklusi keuangan setiap tahun dan dipantau per semester.
“Dengan literasi itu masyarakat semakin teredukasi sehingga dapat lebih memahami penggunaan layanan atau produk jasa keuangan,” ucapnya.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 69,57 persen atau lebih tinggi dari 2025 sebesar 66,64 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, atau naik dibandingkan 2025 sebesar 92,74 persen.
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta WigunaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © Tim Redaksi 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Tim Redaksi.
















